Dalam 2 malam ini, kau memberiku pengetahuan yang begitu banyak... Dalam 2 malam ini, kau menggantikan sesuatu yang hilang dari diriku... Dalam 2 malam ini, kau membuatku yakin seyakin-yakinnya atas suatu hal... Dalam 2 malam ini, kau membuatku percaya bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara kebetulan... Dalam 2 malam ini, kau memberiku kesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan orang-orang hebat... Dalam 2 malam ini, kau telah memberiku jawaban atas beberapa misteri dlam hidup... Dan dalam 2 malam ini, kau telah membuatku menyadari banyak hal...
Terima kasih Tuhan atas segala yang telah kau berikan padaku...
Blessing in disguise dapat diartikan secara sederhana sebagai hikmah. Ya, hikmah. Pastinya kita sering mendengar kalimat itu bila kita sedang terkena masalah. Seringkali, bila kita sedang menghadapi sebuah masalah, akan ada banyak orang yang akan berusaha menenangkan kita dengan berkata, “Tenang saja, semua pasti ada hikmahnya”, atau “Ambil saja hikmah dari masalah ini”.
So, familiar bukan anda dengan blessing in disguise a.k.a hikmah??? =D
Blessing in disguise ini memang seringkali tidak kita sadari dalam tempo yang singkat. Bahkan bisa bertahun-tahun kemudian kita baru menyadari ke-ada-an blessing in disguise ini. Hal ini saya alami sendiri. Dan salah satu wujud nyata blessing in disguise yang baru saya sadari setelah bertaun-taun ini adalah seorang perempuan, teman lama di waktu SMA dulu. Dia bernama HERDIANITA HAYUNINGTYAS. Biasa saya panggil dengan nama Dian. Kenapa saya bisa mengatakan bahwa dia adalah salah satu blessing disguise saya? Begini ceritanya : Pertama kali mengenalnya adalah ketika saya duduk di kelas 3 SMA. Salah satu masa terbaik yang pernah saya alami. Saya mengenalnya pun tak lain karena kami duduk di kelas yang sama. Awalnya, saya hanya berteman biasa dengannya. Namun, as time goes on, bersama beberapa teman yang lain, kami seringkali pergi bersama. Dan efeknya adalah, saya mulai jatuh hati padanya. Setelah itu mulailah usaha saya, mengirim sms dan sering berkunjung ke rumahnya. Sampai saat ini pun saya masih ingat kunjungan pertama saya ke rumahnya. Saya (yang waktu itu ditemani seorang teman yang lain) datang ke rumahnya jam 9 malam. Benar-benar pemilihan waktu yang buruk, hehehe… Seringnya saya melakukan komunikasi dengannya, membuat saya semakin tertarik padanya yang kemudian semakin menuntun saya pada kondisi jatuh cinta. Namun, saya baru berani mengatakan hal ini, (kalau tidak salah) pada saat kami sudah berkuliah di semester 2. Itupun, karena terlalu takutnya diri ini, saya hanya berani mengatakannya via sms yg bgitu panjang… What a coward I am… Hehehe… Hingga saat ini, saya masih ingat apa balasan dari dia setelah sata mengiriminya sms tersebut. Dia menjawab (kurang lebihnya seperti ini) : “Maaf Zaq, aku ga bisa, karena aku dah nganggep kmu sebagai sahabatku selama ini”. Mendapat jawaban ini, saya merasa dunia ini seakan runtuh. Wajar saja, karena she’s my 1st love dan ditolak pula. Benar-benar kasih tak sampai dan cinta bertepuk sebelah tanganlah…! Hehehe… Dan ternyata memang, keputusannya untuk menolak saya ternyata benar-benar yang terbaik bagi kami, meskipun awalnya saya tak bisa menerimanya.
Saya baru sadari, bahwa blessing in disguise dari penolakannya tersebut adalah dia tetap menjadi sahabat saya. Dan bodohnya, saya baru menyadarinya tadi pukul 2 pagi!!! Ya, saya baru menyadarinya tadi pagi. Ketika dia tiba-tiba menelepon saya dan bertanya mengenai suasana hati saya. What a friend, yang merelakan waktu tidurnya terbuang hanya untuk mendengar celotehan dan keluh kesah sahabatnya. Meskipun hanya berbicara melalui telepon, dia benar-benar mampu menopang dan menguatkan sisi diri yang sedang rapuh. Mungkin dia tak tahu, bahwa ketika mendengar suaranya dan ketika saya berkeluh kesah, tanpa sadar air mata keluar dari mata saya. Ini bukan air mata akibat kesedihan hati saya, namun air mata bahagia. Ya, air mata bahagia. Bahagia karena ternyata dia masih ada di samping saya ketika saya benar-benar sedang membutuhkannya. Bagi saya, teleponnya di jam 2 pagi itu benar-benar membuat saya sadar, bahwa dialah salah satu blessing in disguise dalam hidup saya.
Thanx Dian, Thanx 4 everything… I’ll always love u Dian…
Ada yg bilang bahwa karena “harapan”-lah manusia dapat bertahan. Katanya tanpa harapan, tak seorangpun manusia akan mampu bertahan. Dan dulu, aku mempercayai pemikiran itu. Namun beberapa waktu belakangan ini, aku terus berpikir dan merenung mengenai “harapan” ini, hingga akhirnya sekarang aku menolak pemikiran itu. Menolak pemikiran bahwa “harapan” adalah alasan utama manusia dapat bertahan hingga sekarang. Menolak pemikiran bahwa dalam tiap hembusan napas dan detakan jantung, manusia harus terus berharap, berharap untuk ini dan berharap untuk itu.
Sebuah “harapan” akan mampu membuat manusia mampu melangkah maju. Sebuah “harapan” akan mampu membuat manusia menjadi yakin dalam melangkah. Sebuah “harapan” akan mampu membawa manusia ke jalan yang benar. Sebuah harapan akan mampu menjadikan seseorang lebih tangguh dalam menjalani hidup. Dulu aku mempercayai semua ini. Dulu aku selalu berharap.. Namun saat ini, “harapan” tak mampu lagi membuatku melangkah maju. Tak mampu lagi membuatku yakin dalam melangkah. Tak mampu lagi membawaku ke jalan yang benar. Dan tak mampu lagi membuatku menjadi manusia yang tangguh.
Karena ternyata “harapan” hanya membuatku menjadi takut untuk melangkah, membuatku seringkali meragu dalam mengambil keputusan, dan malah melemahkan diriku. Karena itulah, saat ini aku sudah tak mempercayai “harapan” itu dan akhirnya akupun memutuskan untuk berhenti berharap.
Berhenti berharap bukan berarti berhenti berusaha. Berhenti berharap bukan berarti diam dan tak melakukan apa-apa. Berhenti berharap bukan berarti melangkah mundur.Berhenti berharap bukan berarti melemahkan diri. Berhenti berharap bukan berarti kita menerima semua hal dengan begitu saja.
“Berhenti berharap”-ku adalah suatu sikap di mana aku merubah orientasiku dalam setiap hal yang aku lakukan. Merubah dari sikap yang goals oriented menjadi process oriented.
Dengan berhenti berharap, aku dapat melakukan semuanya dengan tanpa beban. Dengan berhenti berharap, akan membuat diriku lebih fleksibel dalam hidup. Dengan berhenti berharap, aku tak lagi menakutkan hal-hal yang belum terjadi. Dengan berhenti berharap, aku menjadi lebih yakin dengan apa yang telah kulakukan. Dan yang terpenting adalah dengan berhenti berharap, aku akan mampu menjalani hidup ini dengan ikhlas.
Keikhlasan akibat berhenti berharap inilah yang aku tuju. Keikhlasan ini pula yang aku yakini sebagai kunci utama manusia untuk hidup di dunia dengan nyaman dan bahagia.
So, stop hoping n be a “process oriented” people…..
Kurang dari 40 jam dari sekarang, seorang Razaq Manan Ahmad, mahasiswa semester 9 Hubungan Internasional Universitas Airlangga Surabaya, akan menghadapi sidang skripsi. Kepastian jadwal sidang tersebut baru aku dapat di hari rabu dari beberapa orang teman. Beberapa saat setelah mendengar berita tersebut, seketika jantungku bereaksi dengan cara berdegup sedemikian kencangnya. Hal ini membuat waktu seakan berhenti, otak seakan membeku dan lidah menjadi bertulang. Mungkin bagi beberapa orang, reaksiku agak berlebihan, tapi memang itu yg kurasakan. Jujur, sebenarnya aku tak mempermasalahkan kapan aku harus sidang, namun yg membuatku bereaksi sedemikian berlebihannya adalah karena dalam susunan tim penguji skripsiku yg terdiri dari 3 orang tersebut ada satu dosen yang sangat kusegani karena kedalaman ilmunya dan kebijaksanaannya. Dia adalah “Morgenthou”-nya HI Unair, Pak Djoko Susilo.
Masuknya dia dalam tim penguji skripsiku adalah benar2 di luar dugaanku. Entah ini hanya sebuah perasaan atau apa, namun tiap berbicara dengannya, aku bisa merasakan aura yang begitu kuat, yang seakan meruntuhkan mental dan membuatku mengurungkan niat untuk mendebat setiap kalimat yg keluar dari mulutnya. Sorot mata dan senyum wajahnya seakan menyedot habis kemampuan otakku. Pernah suatu saat, ketika aku diuji secara lisan olehnya dalam sebuah UAS, ia mengatakan klo aku mengalami disorientasi. Ya skali lagi, DISORIENTASI kawan… Kata itu terlontar dari mulutnya akibat melihatku yg seakan tak membawa otak ke ruang ujian lisan. Padahal, he just don’t know klo neutron2 otakku seakan berhenti bergerak begitu dia melontarkan sebuah pertanyaan padaku…
Seharian, aku berusaha menenangkan hati dan pikiran serta mempersiapkan mental untuk menghadapinya. Ditambah dengan motivasi dan doa dari teman2ku, akhirnya di hari kamis, aku sudah mampu mengontrol diriku dan membuat diriku tenang… Namun, ketenangan hati dan pikiranku hanya bertahan hingga jumat sore saja kawan… Ketenangan terganggu kembali ketika pada jumat sore, dalam perjalanan pulang dari Madiun, salah satu sekretaris KP, Gindi, called me n said that salah satu pengujiku yg tak lain adalah Dekan fakultasku, Pak Basis, digantikan oleh Mas Joko Santoso. Mendengar namanya masuk menjadi pengujiku seakan petir menyambar dan badai menghampiriku… aku pun tertunduk lemas dan hanya mampu berteriak kaget… Kehadirannya benar2 di luar dugaanku, skali lagi.
Mas Joko Santoso adalah seorang dosen muda yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di London School of Economic, UK. Dosen muda ini telah diakui sebagai sosok yg cemerlang di HI Unair. Dia juga cukup disegani oleh para mahasiswa. Banyak mahasiswi yang terpikat olehnya karena kepintaran dan kharismanya. Mas Joko, setiap menjadi penguji, dia hanya berbicara sedikit, namun kalimat yg dia keluarkan dari mulutnya laksana pisau yang mampu menusuk hati dan otakmu. Dengan sedikit berkata-kata, ia mampu menunujkksn letak kebodohanmu. Tiap kata yang terlontar keluar dari mulutnya seakan terror yang mampu membuat seorang Hercules pun akan menciut nyalinya.
Duet Pak Djoko dan Mas Joko dalam sebuah sidang skripsi sbg tim penguji adalah salah satu hal yang tidak diharapkan oleh para mahasiswa HI Unair. Namun, adanya duet tersebut dalam sidangku, akan mampu menarik minat banyak mahasiswa HI untuk melihat sidangku yang mungkin akan menjadi sebuah killing field. Kawan, jujur sebenarnya aku cukup tersanjung dengan masuknya dua orang tersebut ke dalam tim penguji skripsiku namun di sisi lain aku merasakan kekhawatiran yg mendalam ttg kelangsungan hidupku, akankah sidang skripsi menjadi killing field bagiku atokah malah sidang skripsi tersebut merupakan pertanda baik dan awal keberuntungan dalam memulai tahun yang baru???
Seorang teman, melalui sms, mengibaratkan dua orang tersebut adalah badai dan diriku adalah sebuah kapal yg berusaha mencapai daratan. Temanku itu juga berkata, “We can’t control the wind, but we can adjust the sail”. Dan sungguh ajaib kawan, ungkapan itu mampu menenangkan hati dan pikiranku lagi. Ungkapan itu pun membuat lebih semangat untuk mempersiapkan diri menghadapi sidang. Semoga saja sidang skripsi yang akan diadakan pada hari Senen mendatang merupakan pertanda baik dan awal keberuntunganku dalam memulai tahun yg baru… Amin… Doakan saya ya… =)
Saat kau mengacuhkannku, maka aku akan mengacuhkanmu juga... Saat kau tak menyapaku, maka aku tak akan menyapamu juga... Saat kau mendiamkan diriku, maka aku akan mendiamkan dirimu juga...
Tetapi, Saat kau tak mempedulikanku, maka aku akan tetap akan mempedulikanmu... dan Saat kau tak menyayangiku, maka aku tetap akan menyayangimu...
Siapa siy yg ga pernah denger Pantai Parangtritis di Jogja? Pastinya anda2 sudah terlalu familiar dengan salah satu pantai yg ada di Jogja itu... Tapi, taukah anda kalau ternyata, di Jogja, masih banyak lagi pantai2 yang tak kalah keren dengan Parangtritis?? Libur lebaran kemaren, saya bersama keluarga berkesempatan mengunjungi 4 dari 7 pantai yang ada di kawasan selatan Gunung Kidul, Jogjakarta. Empat pantai tersebut yakni Pantai Kukup, Drini, Baron, dan Krakal... Dan yang paling membuat saya terkesan adalah Pantai Kukup. Mungkin bagi anda yg pernah ke Pantai Balekambang di Malang Selatan, Pantai Kukup ini akan mengingatkan kita pada pantai tersebut, coz di Pantai Kukup juga ada sebuah gazebo yg dibangun di atas karang, yg untuk menuju ke gazebo tersebut kita harus melewati jembatan beton yang melintas di antara 2 karang... Untuk lebih jelasnya, liat foto2nya aja ya Teman... Hehehe
Film Laskar Pelangi, merupakan film yang diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Andrea Hirata. Pada hari premiernya (25 September), di Surabaya, tiket2 di bioskop yg memutar film ini telah sold out sejak pukul 13.30. Saya sendiri sempat berburu tiket di 2 tempat di TP dan GM, namun tetap saja tidak kebagian. Untuk menghibur diri, di playlist winamp hanya saya masukkan 1 lagu, yakni Laskar Pelangi by Nidji, hehehe… Namun esok harinya, atas bantuan teman, akhirnya saya dapat juga tiketnya (thanx 2 Iin & Rika) Sejak munculnya pemberitaan atas difilmkannya novel Laskar Pelangi tersebut, rasa penasaran yg amat sangat telah muncul dalam diri saya. Saya bertanya2, akankah sang sutradara mampu memvisualisasikan dengan baik dan indah cerita di lascar pelangi tersebut. Saya sendiri paham, bahwa tak kan mungkin seluruh kejadian dalam novel tersebut akan mampu divisualisasikan oleh sang sutradara.
Pada tanggal 26 September 2008 pukul 20.30 di Sutos, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menonton film yg telah membuat saya penasaran sejak lama. Hanya ada satu kata bagi saya untuk mendeskripsikan film ini, yakni : “Magnificent”. Mungkin, inilah film karya sineas Indonesia terbaik yg pernah saya tonton. Dan saya berharap agar seluruh pelajar di negeri ini menontonnya.
Saat menonton film ini, seringkali saya takjub dengan keindahan Belitong, apalagi ketika scene dimana para anggota laskar pelangi berdiri di atas batu di pinggir pantai sambil melihat pelangi… Thats so damn beautiful… Menonton film ini, emosi saya benar2 naik turun. Saya tertawa terpingkal-pingkal ketika mendengar salah satu dialognya dan ketika melihat scene dimana Mahar sedang bernyanyi dan anggota lainnya menjadi penari latarnya. Namun, saya juga terharu biru ketika scene perpisahan Lintang.
Menurut pemikiran saya, film Laskar Pelangi ini memiliki pesan yg amat kuat bagi 3 kelompok di negeri ini, yakni kelompok pembuat kebijakan (pemerintah), pelajar, dan guru. Untuk para pembuat kebijakan, film ini merupakan semacam peringatan bahwa saat ini masih banyak ada anak2 seperti Lintang yg terpaksa putus sekolah hanya karena kemiskinan. Untuk para pelajar, malulah pada tokoh Lintang, yg tetap rajin dan teguh bersekolah meskipun jarak dari rumahnya ke sekolah sangatlah jauh dan berbahaya. Untuk para guru, film ini mencoba mengajak para guru untuk benar2 berdedikasi tinggi dalam mengajar murid2nya meskipun dalam kondisi yg minim.
“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” (Pak Harfan, Kepala Sekolah SD Muhammdiyah Gatong)